Krisis Status Mahasiswa

          Mengenal pendidikan Indonesia tentu kita akan membahas sejarah panjang pelajar di Indoneisa. Banyak tokoh dibalik pejuang pendidikan di Indonesia, seperti Ki Hajar Dewantara, perkumulan Budi Utomo, sampai organisasi keagamaan Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama(NU).


            Sesuatu yang dikatakan menjadi puncak sebagai seorang pelajar adalah menjadi  " Maha Siswa" dimana itulah kasta tertinggi sebuah pendidikan formal, yang kemudian diikuti jenjang S2  dan S3 yang masing-masing masih disebut sebagai mahasiswa.
sebutan "mahasiswa" masih menimbulkan pro dan kontra. dimana yang dinamakan siswa adalah mereka yang akan terus belajar tanpa mengenal batasan tempat, waktu, dan golongan. sehingga siapapun itu sejatinya adalah sorang pembelajar sampai akhir hayatnya kelak.

                Di dunia ini tidak ada seorang pun yang mampu untuk mengetahui segala bidang yang ada. oleh karena itu dalam agama Islam disebutkan bahwa perumpamaan pengetahuan manusia tentang alam semesta ini hanya bagaikan setetes air di tengah samudra yang luas.

               Namun disisi lain bahwa menjadi mahasiswa adalah angan dari banyak anak muda yang ingin melanjutkan studianya secara lebih mendalam dan mendetail. dunia perkuliahan yang ada saat ini memanglah sebagian besar mengadopsi sistem yang diterapkan dunia barat.

        Dalam sebuah opini kampus diciptakan hanya untuk para pekerja. kenapa demikian? sebagaimana kita ketahui, sebagian besar fresh graduate justru menjadi pencari kerja baik di Negeri ataupun pegawai Swasta. hal ini nantinya akan berkaitan antara pengetahuan dan pekerjaan mereka yang akan dijelaskan nanti.

      Dahulu kampus atau tempat pendidikan besar karena pelajar dan mahasiswanya. mereka memiliki dedikasi yang tinggi untuk mencapai ilmu dan menempuh pendidikan. selain itu pengaruh dari globalisasi juga masih sangat sedikit sekali, sehingga para pelajar dapat dengan  fokus mempelajari bidang ilmu mereka masing-masing. berbeda jika dibandingkan dengan saat ini yang kebanyakan pelajar dan mahasiswa mengincar nama sekolah dan perguruan tinggi hanya untuk "pamer" almamater dan hanya untuk mengejar selembar iijazah.

 Tidak salah memang mengejar nama besar sebuah universitas supaya mendapatkan lingkungan yang sesuai dan tentu saja tenaga pengajar yang mumpuni.Namun belakangan ini muncul paradigma baru, yang menjadikan pelajar mengincar sebuah universitas hanya untuk menjadi sebuah kebanggaan ketika ditanya teman, tetangga, ataupun keluarga. inisiatif yang demikian akan melahirkan sifat sombong dan tentu saja akan selalu membandingkan diri mereka dengan orang lain dan menganggap diri mereka lebih hebat dari pada yang lain.

       Tak heran jika sekarang ini banyak mahasiswa yang menjadi pengangguran karena tidak memiliki kesiapan dalam menghadapi dunia kerja. Karena mereka sibuk dengan berbangga diri, tanpa diiringi dengan belajar dan pendalaman materi. Setiap hari yang dia share adalah tentang kebesaran tempatnya menimba ilmu.

              Semakin kedepan, maka bisa dipastikan sebagian besar penduduk Indonesia adalah mereka yang sudah mendapat gelar sarjana. Namun demikianlah banyaknya jumlah tidak diiringi dengan kontribusi dan pencapaian mereka pada bidang mereka masing-masing. Sarjana Pertanian justru mengincar pekerjaan di Perbankan, maka ia akan bersaing dengan lulusan dari Akuntansi, Ekonomi, sampai lulusan dari Manajemen. Seakan mereka telah menyesal telah masuk ke jurusan itu, dan menganggap selama ini apa yang ia kerjakan tidak mendapatkan apa-apa.

                Sikap kritis mahasiswa saat ini juga patutu dipertanyakan, mereka hanya focus pada masalah-masalah yang memang bukan ranahnya untuk memberikan masukkan. Mengapa demikian? karena kebanyakan mereka memprotes kebijakan atau tindakan oleh pihak tertentu hanya melalui demo,orasi, atau unjuk rasa. Seakan itulah jalan pertama dan terakhir yang mereka tuju dan mereka tahu. Seakan tindakan itu bisa mengubah suatu keadaan. Padahal   tindakan itu kebanyakan hanya akan membuang-buang tenaga, fikiran, Waktu, dan Biaya. Tak jarang jika sering berujung bentrokan dan aksi saling kejar oleh aparat. Anehnya mereka yang berjibaku di lapangan saling lempar batu merasa  bangga dan menganggap dirinya hebat bisa dan mampu melawan aparat keamanan. Mereka lupa akan tujuan awal tadi, melupakan siapa diri mereka.


             Mahasiswa adalah orang yang terdidik, yang melakukan segala tindakan dan aktivitas dengan penuh pemikiran dan pertimbangan. Tak heran jika masyarakat kemudian mahasiswa tak ubahnya seperti preman jalanan, yang tak perlu pendidikan tinggi untuk bisa berkelahi dan melawan aparat.

              Sebagai seorang intelek tentu seharusnya lebih mengedepankan argument dan pertimbangan serta masukan. Mengedepankan negosiasi dan diskusi dengan pihak yang bersebrangan dengan mereka. Unjuk rasa adalah jalan terakhir ketika segala cara tidak membuahkan hasil. Maka ia turun  ke jalan untuk menyuarakan aspirasi mereka kepada masyarkat, bahwa ada yang salah dengan apa yang mereka tuntutkan. Sehingga hal tersebut akan memancing kesadaran masyarakat, serta bagi mereka yang besebrangan tentu akan membuatnya malu dan akan kembali mempertimbangkan masukan mereka.

               Pola fikir yang demikian perlu ditanamkan dalam diri mahasiwa, sehingga mereka benar-benar tahu apa yang mereka tuntut dan protes. Bukan menjadi pasukan "nasi bungkus" yang gagap informasi, asal ikut ikutan dan selalu mengekor pada orang lain. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sabtu dan Minggu

Alasan seseorang suka unggah foto pribadi dan keseharian mereka di media sosial

Buku Bajakan